KUATKAN MENTAL PENDIDIKAN

Ucap syukur, lompat kegirangan, corat-coret, konvoi, tangis histeris, bahkan ada yang pingsan. Itulah segelumit ekspresi dari seluruh siswa yang belum lama ini menerima pengumuman kelulusan mereka dalam Ujian Nasional (UN). Tindakan mulai dari yang wajar sampai tindakan yang kurang pantas untuk “ukuran” pelajar ditumpahkan sebagai ekspresi kelulusan UN. Setiap tahun pasti terulang dengan segala macam permasalahannya.

Jiwa muda memang jiwa yang penuh dengan semangat, jiwa yang ekspresional, jiwa yang super kreatif, yang sangat rentan terhadap pengaruh “habbit” (kebiasaan), dank arena faktor kebiasaan inilah yang mungkin menjadi alasan untuk mengekspresikan kelulusan dengan cara yang agak “berlebihan” walaupun banyak juga siswa yang tidak terpengaruh, tapi sedikit banyak tindakan sebagian siswa telah membentuk imej tertentu terhadap proses pengumuman kelulusan UN tersebut.

Terlepas dari hal tersebut di atas, sebenarnya ada hal yang lebih penting untuk dicermati oleh kita semua sebagai bagian dari proses pendidikan jangka panjang Bangsa Indonesia. Apakah itu? Penulis menyebutnya sebagai “Mentalitas Pendidikan”.

Mentalitas pendidikan dapat berarti banyak hal, mulai dari mental pendidik, mental siswa didik, mental kurikulum pendidkan, bahkan sampai pada mental orang tua siswa didik. Dunia pendidikan memang mengalami banyak kemajuan, namun harus kita akui bahwa mental pendidikan kita terutama pendidkan dasar dan pendidikan usia remaja jauh menurun. Mengapa demikian?

Mari kita cermati keadaan sekitar kita, di koran, radio, televise, dan media-media lain ramai memberitakan tentang laporan orang tua siswa ke polisi karena anaknya “dijewer’ oleh Bapak/Ibu Guru, karena sang siswa berbuat kesalahan, atau karena anaknya “dicubit” oleh Bapak/Ibu Guru yang dianggap sebagai sebuah “penganiayaan”. Mungkin memang ada oknum guru yang bertindak diluar kepatutan, tapi ironisnya ada beberapa kasus tertentu yang mungkin tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah “penganiayaan” tetapi malah diperkarakan. Kemanakah otoritas Guru dalam membentuk pribadi anak didiknya  dengan caranya sendiri yang mungkin telah diterapkan selama puluhan tahun dan itu terbukti berhasil?

Zaman mungkin memang telah berubah, tapi apakah segelintir/sebagian pengalaman masa lalu yang sekiranya dapat menjadi pedoman yang berharga juga harus dihilangkan? Mari kita belajar dari  contoh yang nyata, bagaimana pengalaman orang tua kita dulu sewaktu menempuh bangku sekolah? Bagaimana “tersiksanya” orang yang mencari ilmu ketika motor, mobil, computer, televise, mesin ketik, buku bacaan dan sebagainya masih minim? Apa yang akan kita perbuat seandainya hal tersebut masih berlangsung sampai sekarang? Sanggupkah kita berjuang dengan begitu kerasnya di tengah keterbatasan yang menghalangi?

Zaman mungkin memang telah berubah, anak sekolah sekarang dapat menikmati fasilitas dari orang tua seperti motor, mobil, dan segala fasilitas lainnya yang mungkin saja dapat membuat seseorang menjadi besar kepala karena Bapak/Ibu Guru hanya bersepeda ke sekolah, hanya mengendarai angkutan umum, atau bahkan berjalan kaki ke sekolah dengan segala keikhlasannya.

Zaman mungkin memang telah berubah, anak sekolah sekarang bahkan banyak yang melebihi Guru-gurunya dalam memanfaatkan teknologi semisal dunia maya/internet dengan segala macam istilah-istilah serta fitur-fitur keren yang mungkin belum diketahui oleh Bapak/Ibu Guru mereka.

Tapi tunggu dulu!! Sekolah tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana menjadi anak yang pintar, sekolah adalah tempat pembinaan kepribadian, tempat pembinaan jati diri, tempat pembinaan kedewasaan, bahkan tempat pembinaan mental yang mungkin tidak terdapat di situs internet, tidak terdapat di bawah jok motor, atau di atas dashboard mobil, tapi hanya terdapat di ruang kelas yang mungkin tidak begitu besar tetapi didalamnya berdiri seorang guru yang dengan penuh keikhlasan mengajari siswa-siswinya tentang bagaimana caranya kelak untuk menjadi “seseorang”.

Jika kita liat fenomena yang belum lama ini terjadi dimana angka kelulusan siswa menurun drastic. Menurut pendapat penulis, sedikit banyak hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh apa yang disebut tadi sebagai mental pendidikan.

Para siswa tidak merasa benar-benar siap untuk menghadapi tekanan mental UN yang begitu besar karena terbiasa dengan “budaya santai”, hal ini memperlihatkan bahwa sebenarnya UN selayaknya sebagai ujian mental yang menguji kedewasaan siswa dalam menghadapi tekanan dan tantangan.

Oleh sebab itu, dengan adanya momen HARDIKNAS ini, marilah kita terutama para orang tua untuk mengkaji kembali pola-pola/cara kita dalam mendidik anak terutama cara kita menyikapi psikologi dan kebutuhan-kebutuhan anak dalam menunjang proses pendidikannya. Dan untuk para siswa/pelajar sekalian, ada petuah lama mengatakan bahwa “kesuksesan itu dapat dicapai dengan kerja keras”. Oleh karena itu, biasakanlah /untuk menjadi mandiri dan terus berusaha untuk melatih kepribadian terutama kekuatan mental dalam menjalani proses pendidikan. Marilah kita bersama-sama untuk membangun kembali mental pendidikan yang kuat sehingga menciptakan pribadi pelajar yang tangguh dan berani menghadapi tantangan.

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL!!

Semoga pendidikan di Indonesia Negara kita tercinta semakin maju dan masa depan semakin cerah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.