DAMPAK PEMILU PADA EKONOMI RAKYAT
Rakyat adalah actor utama dalam pemilihan sehingga disebut suara rakyat adalah suara tuhan. Sumpah untuk mensejahterakan rakyat terucap dan tertulis dimana-mana. Politik uang yaitu dengan membeli suara sudah hal yang pasti dan terbiasa di Negara ini. Seperti yang sudah-sudah pemilihan kepala daearah , rakyat dengan ikhlasnya menukarkan kesejahteraan dengan lembaran uang sehinga mereka yang punya uang yang sangat berpeluang untuk jadi pemimpin negeri ini.
Berkah Pemilu Pada Ekonomi Rakyat
Pemilu juga bisa menjadi berkah yang sangat besar bagi perekonomian rakyat. Karena pesta lima tahunan ini akan meningkatkan permintaan makanan, minuman, poster dan kebutuhan-kebutuhan kampanye sehinngga roda perekonomian semakin bergerak lebih baik dari keadaan semula.
Politik uang yang dilakukan para caleg akan meningkatkan tingkat konsumtif masyarakat. Inflasi untuk sementara bisa dikendalikan kembali karena banyaknya uang yang beredar sehigga akan menyebabkan Multi Player Effect yang baik dalam berbagai sektor ekonomi. Oleh karena itu pemerintah yang jadi diharapkan dapat memberikan suntikan pada sektor ekonomi rakyat atau ekonomi riil. Sektor ekonomi rakyatlah yang sangat kebal dari gempuran krisis tetapi karena kebijakan pemerintah yang tidak mendukung mengakibatkan mereka surut.
Perlunya Demokrasi Ekonomi
Kemiskinan dan pengangguran di negeri yang kaya raya ini adalah sangat banyak sekali. Beberapa kali pemilihan umum tidak menghasilkan pemimpin yang bisa mengentaskan masyaraka dari kemiskinan. Kebijakan persiden SBY yang akhir-akhir ini manis hanya bagai permen politik yang akan memberikan kenikmatan sesaat saja.
Soal kesejahteraan rakyat pemerintah memang harus berperan lebih banyak. Menurut Mill pemerintah bukan hanya mengatur supaya orang tidak rebut, tapi pemerintah harus mengatur pembagian hasil produksi secara memadai. Perluasan kegiatan pemerintah dalam masalah itu secara serius merupakan ukuran apakah dia berhasil membawa masyarakat ke kondisi hidup yang lebih baik. Atau dengan kata lain apakah demokrasi diterpakan pemerintah.
Inti pokok dalam demokrasi ekonomi(ekonomi kerakyatan, usaha kecil dan koperasi atau kebijakan populisme) adalah system ekonomi yang lebih mementingkan rakyat bukan hanya sebagian kelompok individu. Implementasi dalam hal ini bisa dengan memebantu kegiatan ekonomi rakyat/ sektor riil khususnya kaum pribumi atau dengan fungsialisasi koperasi yang bisa berperan sebagai convertailing power.
Krisis tahun 1999 menunjukan bahwa produk domestic bruto(PDB) meningkat karena pengusaha kecil dan menengah semakin banyak dan terus meningkat sedangkan pengusaha besar cenderung menurun. Peningkatan PDB itu juga diikuti dengan penarikan tenaga kerja yang semakin banyak.
Oleh karena itu, pemerintah kededepan harus semakin sadar dan tidak ragu-ragu untuk mengguanakan paradigma pembangunan yang bertumpu pada usaha kecil dan koperasi sehingga struktur ekonomi akan menjadi ideal, dimana tidak hanya segelintir orang yang menguasai asset ini melainkan sebagian besar masyarakat. Pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Melihat keadaan yang demikian. Maka pemilu harus disikapi dengan lebih bijak agar bangsa ini bisa dipimpin oleh mereka yang beroerientasi pada kesejahteraan rakyat. Antara golput dan tidak bukan suatu hal yang benar dan salah atau haram dan tidak. Angka golput yang besar juga bisa menjadi suatu control social bagi pemrintah untu lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan.
Dampak pemilu ternyata begitu dasiat. Yang pada awalnya meski kampanye damai pemilu ini telah di canangkan, namun keanehan dan beberapa kejadian yang tidak diharapkan banyak terjadi.
Caleg stres salah satunya, fenomena aneh tapi nyata ini telah memenuhi headline koran koran yang kemaren sempat dipenuhi poster caleg yang lagi berkampanye di pemilu, hanya satu tujuan banyak orang untuk memilihnya. Dalam hati saya cuma terseyum asem, dan pengen bilang sokorrrr ke mereka yang stres itu.
Dampak pemilu : Sejumlah Caleg Dirawat
Dampak pemilu legislatif di Kabupaten Pasaman mulai terlihat. Ada Caleg yang kecewa, depresi, bahkan baciracau di kedai kopi setelah tak ada tanda-tanda akan duduk di DPRD. Bahkan ada yang masuk rumah sakit. Tapi belum ada yang dikirim ke rumah sakit jiwa.
Direktur RSUD Lubuk Sikaping, Drg. Wahid Khusairi yang ditanya Singgalang tentang adanya Caleg yang masuk rumah sakit yang dipimpinnya, ia enggan berkomentar.
“Kalau ada orang sakit kita rawat. Apakah Caleg atau tidak. Karena tugas rumah sakit adalah siap menerima pasien dan memberikan pelayanan terbaik,” kata Wahid.
Ketika didesak ada indikasi Caleg yang masuk RSUD, hal itu adalah kode etik kedokteran. “Kita tak bisa mengatakan orang depresi, stres karena Caleg. Yang jelas, kalau ada pasien yang sakit dan dirawat jelas kita obati,” katanya mengulangi ketegasan.
Dia menyebutkan, pencetus seseorang sakit bisa alasan macam-macam. Misalnya karena banyak pikiran, punya problem, dan lain sebagainya. Tetapi rumah sakit, katanya, hanya mengobati orang yang sakit tanpa membeda-bedakan dari kalangan mana pun.
Soal psikiater, pihak RSUD Lubuk Sikaping memang tak punya dokter ahli jiwa (psikiater) karena memang sesuai dengan kondisi dan tipe RS yang ada di Lubuk Sikaping.
Berdasarkan penelusuran Singgalang, sejak pemilu 9 April lalu ada beberapa Caleg dan keluarga Caleg yang dirawat. Namun, kata Wahid, tidak bisa dibuktikan secara medis apakah pasien itu sakit karena gagal menjadi anggota dewan.
“Tetapi apakah penyebabnya karena gagal sebagai Caleg meraup suara, kita juga tak bisa memberikan kepastian karena dokter hanya memberikan pelayanan secara medis agar pasien bisa sembuh. Siapapun orangnya, baik Caleg, maupun tidak. Karena kita tidak membeda-bedakan pasien,” katanya.
Akibat kekecewaan di balik harapan Caleg itu, telah membuat kurenah agak aneh, mulai dari manciracau di beberapa tempat. Para Caleg kecewa itu, karena telah menghabiskan dana cukup signifikan, bahkan ada yang menggadai serta menguras tenaga selama masa kampanye, ternyata tak dapat perolehan suara yang diharapkan.